TINJAUAN TERHADAP METODE EMPIRISME DAN RASIONALISME

Abstract: Rasionalism and Empiricism conceptions have so many

weaknesses to use as a method to get knowledge. Therefore, it is a

much need another method that can be expected to revise those

weaknesses. This method is a combination between the Rasionalism

conceptions and the Empiricism conceptions. Afterwards, it is known

as scientific method.



Kata Kunci: Rasionalism, Empirisme and Metode Ilmiah




Jujun S. Suriasumantri1 pernah menjelaskan bahwa metode ilmiah

merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Metode

ini merupakan hasil perkawinan dari pandangan-pandangan dua aliran besar

dalam dunia filsafat yang berseberangan yakni Rasionalisme dan Empirisme.

Dalam tulisan ini, masing-masing aliran tadi hanya akan ditampilkan

melalui masing-masing satu orang tokohnya. Meskipun demikian, fokus kepada

salah satu tokoh ini diharapkan tetap mampu menampilkan pandanganpandangan

aliran-aliran tadi secara komprehensif. Pandangan-pandangan

Rasionalisme akan diwakili oleh René Descartes, sementara pandanganpandangan


Empirisme akan ditampilkan oleh David Hume. Pemilihan dua tokoh

ini karena posisi mereka yang penting dalam aliran masing-masing.

Descartes adalah seorang filosof yang telah memberikan dasar pijakan yang

kuat bagi Rasionalisme2 dan ia pun di kemudian hari dikenal sebagai Bapak

Filsafat Modern karena ia adalah orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis

yang tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fisika dan astronomi baru.3 Sementara

Hume adalah salah satu tokoh paling terkemuka di kalangan filosof. Ini karena

kemampuannya untuk mengembangkan filsafat empiris John Locke dan Bishop

Berkeley menjadi sebuah konklusi logis, dan pada akhirnya membuatnya menjadi

konsisten.4



Untuk mempermudah pembahasan tulisan ini, maka ia dipilah-pilah

menjadi beberapa bagian. Awalnya akan dijelaskan Rasionalisme dan Empirisme

M. Ied Al Munir adalah dosen IAIN Tasya Safiuddin Jambi dan sedang menempuh Pascasarjana

Program Studi Ilmu Filsafat Universias Gadjah Mada

1 Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka Sinar

Harapan, 1998, hal. 119-125.

2 Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat 2, Yogyakarta, Kanisius, 1980, hal. 18.

3 Bertrand Russell, History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social

Circumstances from the Earliest Times to the Present Day, London, George Allen and Unwin,

1946, hal. 580.

4 Ibid., hal. 685. dan Y. Masih, A Critical History of Modern Philosophy, Delhi, Motilal

Banarsidass, 1988, hal. 173. Jurnal Filsafat, Desember 2004, Jilid 38, Nomor 3





secara umum lengkap dengan pandangan-pandangan dan tokoh-tokohnya.

Kemudian dibatasi kepada Rasionalisme Descartes dan Empirisme Hume.

Setelah itu, ditutup dengan usaha untuk mengawinkan pandangan-pandangan

dua tokoh dari masing-masing aliran-aliran tersebut.




RASIONALISME DAN EMPIRISME




Rasionalisme



Secara etimologis Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris

rationalism.5 Kata ini berakar dari kata bahasa Latin ratio yang berarti “akal”.6

A.R. Lacey7 menambahkan bahwa berdasarkan akar katanya Rasionalisme adalah

sebuah pandangan yang berpegangan bahwa akal merupakan sumber bagi

pengetahuan dan pembenaran.




Sementara itu, secara terminologis aliran ini dipandang sebagai aliran yang

berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan.

Ia menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan, mendahului

atau unggul atas, dan bebas (terlepas) dari pengamatan inderawi.8 Hanya

pengetahuan yang diperoleh melalui akal yang memenuhi syarat semua

pengetahuan ilmiah. Pengalaman hanya dipakai untuk mempertegas pengetahuan

yang diperoleh akal. Akal tidak memerlukan pengalaman. Akal dapat

menurunkan kebenaran dari dirinya sendiri, yaitu atas dasar asas-asas pertama

yang pasti.9




Rasionalisme tidak mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman

hanya dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Karenanya, aliran ini

yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide, dan bukannya di

dalam barang sesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang

sesuai dengan atau yang menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya

dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal saja.10

Kaum Rasionalisme mulai dengan sebuah pernyataan yang sudah pasti.

Aksioma dasar yang dipakai membangun sistem pemikirannya diturunkan dari

ide yang menurut anggapannya adalah jelas, tegas dan pasti dalam pikiran

manusia. Pikiran manusia mempunyai kemampuan untuk mengetahui ide

tersebut, namun manusia tidak menciptakannya, maupun tidak mempelajari lewat

pengalaman. Ide tersebut kiranya sudah ada “di sana” sebagai bagian dari

5 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002, hal. 929.

6 Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosophy Volume 7, New York, The Macmillan

Company & The Free Press, 1967, hal. 69.

7 A.R. Lacey, A Dictionary of Philosophy, New York, Routledge, 2000, hal. 286.

8 Bagus, loc. Cit. Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2002, hal.

929.

8 Paul Edwards (ed.), The Encyclopedia of Philosophy Volume 7, New York, The Macmillan

Company & The Free Press, 1967, hal. 69.

8 A.R. Lacey, A

9 Hadiwijono, loc. Cit. hal. 18.

10 Louis O. Kattsoff, Element of Philosophy atau Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono,

Yogyakarta, Tiara Wacana, 2004, hal.135.M. Ied Al Munir, Tinjauan Kritis Metode Ilmiah …




kenyataan dasar dan pikiran manusia.



Dalam pengertian ini pikiran menalar. Kaum rasionalis berdalil bahwa

karena pikiran dapat memahami prinsip, maka prinsip itu harus ada, artinya

prinsip harus benar dan nyata. Jika prinsip itu tidak ada, orang tidak mungkin

akan dapat menggambarkannya. Prinsip dianggap sebagai sesuatu yang apriori,

dan karenanya prinsip tidak dikembangkan dari pengalaman, bahkan sebaliknya

pengalaman hanya dapat dimengerti bila ditinjau dari prinsip tersebut.12

Dalam perkembangannya Rasionalisme diusung oleh banyak tokoh,

masing-masingnya dengan ajaran-ajaran yang khas, namun tetap dalam satu

koridor yang sama. Pada abad ke-17 terdapat beberapa tokoh kenamaan seperti

René Descartes, Gottfried Wilhelm von Leibniz, Christian Wolff dan Baruch

Spinoza. Sedangkan pada abad ke-18 nama-nama seperti Voltaire, Diderot dan

D’Alembert adalah para pengusungnya.




Empirisme






Empirisme secara etimologis berasal dari kata bahasa Inggris empiricism

dan experience.13 Kata-kata ini berakar dari kata bahasa Yunani έμπειρία

(empeiria) dan dari kata experietia14 yang berarti “berpengalaman dalam”,

“berkenalan dengan”, “terampil untuk”. Sementara menurut A.R. Lacey15

berdasarkan akar katanya Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang

berpandangan bahwa pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan

kepada pengalaman yang menggunakan indera.




Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai

Empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari

dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang

dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah

satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal.16




Menurut aliran ini adalah tidak mungkin untuk mencari pengetahuan mutlak

dan mencakup semua segi, apalagi bila di dekat kita terdapat kekuatan yang dapat

dikuasai untuk meningkatkan pengetahuan manusia, yang meskipun bersifat lebih

lambat namun lebih dapat diandalkan. Kaum empiris cukup puas dengan

mengembangkan sebuah sistem pengetahuan yang mempunyai peluang besar

untuk benar, meskipun kepastian mutlak tidak akan pernah dapat dijamin.17

Kaum empiris memegang teguh pendapat bahwa pengetahuan manusia

dapat diperoleh lewat pengalaman. Jika kita sedang berusaha untuk meyakinkan

11 Stanley M. Honer dan Thomas C. Hunt, Metode dalam Mencari Pengetahuan:


Rasionalisme,


Empirisme dan Metode Keilmuan, dalam Jujun S. Suriasumantri (penyunting), Ilmu dalam

Perspektif: Sebuah Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu, Jakarta, Yayasan obor

Indonesia, 2003, hal. 99.



seorang empiris bahwa sesuatu itu ada, dia akan berkata “tunjukkan hal itu

kepada saya”. Dalam persoalan mengenai fakta maka dia harus diyakinkan oleh

pengalamannya sendiri. Jika kita mengatakan kepada dia bahwa seekor harimau

di kamar mandinya, pertama dia minta kita untuk menjelaskan bagaimana kita

dapat sampai kepada kesimpulan tersebut. Jika kemudian kita mengatakan bahwa

kita melihat harimau tersebut di dalam kamar mandi, baru kaum empiris akan

mau mendengar laporan mengenai pengalaman kita, namun dia hanya akan

menerima hal tersebut jika dia atau orang lain dapat memeriksa kebenaran yang

kita ajukan, dengan jalan melihat harimau itu dengan mata kepalanya sendiri.18

Seperti juga pada Rasionalisme, maka pada Empirisme pun terdapat

banyak tokoh pendukungnya yang tidak kalah populernya. Tokoh-tokoh

dimaksud di antarnya adalah David Hume, John Locke dan Bishop Berkley.




RASIONALISME RENÉ DESCARTES


Kehidupan dan Karya René Descartes

René Descartes atau Cartesius dilahirkan di La Haye, sebuah kota kecil di

Touraine, Perancis tahun 1596.19 Ia mendapatkan pendidikan di sekolah Jesuit di

La Flèche. Selama di sekolah ini, karena kondisi kesehatannya yang kurang baik,

ia diizinkan untuk tetap berada di tempat tidur dan ini pada akhirnya menjadi

sebuah kebiasaan selama hidupnya. Di sekolah Jesuit, Descartes mendapatkan

pelajaran-pelajaran tentang filsafat, fisika dan matematika. Selama di sekolah ini

pula ia ikut merayakan ditemukannya berbagai bulan yang ada pada planet

Jupiter tahun 1611.




Setelah meninggalkan La Flèche, Descartes melanjutkan pendidikannya ke

sekolah hukum di Poitiers. Selanjutnya ia berpergian di beberapa negera Eropa

selama satu dekade, termasuk tiga tahun di Paris, di mana ia menemukan

Mersenne, yang kemudian menjadi mentornya. Pada tahun 1629, dalam

pencariannya akan ketenangan dan kesunyaian, ia menetap di Belanda. Belanda

dianggap sebagai tempat yang paling tepat karena iklim kebebasannya yang

terbaik di Eropa.20 Descartes menetap di Belanda sampai dengan 1649. Pada

rentang waktu tahun-tahun inilah ia menulis banyak karya ilmiah.21 Pada Oktober

1649 pula ia pindah ke Stochkholm, Swedia, namun pada Februari tahun

berikutnya yakni 1650, ia wafat karena penyakit pneumonia.22


Sebagai seorang filosof, Descartes telah menghasilkan beberapa karya

filsafat yakni: Discours de la méthode pour bien conduire sa raison et chercher

les vérités dansles sciences (Discourse on Method), 1637; Meditationes de

Prima Philosophia (Meditations on the First Philosoph), 1641; Principia

Philosopiae (Principles of Philosophy), 1644;23 dan Les Passiones de L’ame

(1650).24




Ajarannya



René Descartes mengajukan argumentasi yang kukuh untuk pendekatan

rasional terhadap pengetahuan. Hidup dalam keadaan yang penuh dengan

pertentangan ideologis, Descartes berkeinginan untuk mendasarkan keyakinannya

kepada sebuah landasan yang memiliki kepastian yang mutlak. Untuk itu, ia

melakukan berbagai pengujian yang mendalam terhadap segenap yang

diketahuinya. Dia memutuskan bahwa jika ia menemukan suatu alasan yang

meragukan suatu kategori atau prinsip pengetahuan, maka ketegori itu akan

dikesampingkan. Dia hanya akan menerima sesuatu yang tidak memiliki

keraguan apa-apa. Apapun yang masih dapat diragukan maka hal tersebut wajib

diragukan. Seluruh pengetahuan yang dimiliki manusia harus diragukan termasuk

pengetahuan yang dianggap paling pasti dan sederhana.25 Keraguan Descartes

inilah yang kemudian dikenal sebagai keraguan metodis universal.



Pengetahuan-pengetahuan yang harus diragukan dalam hal ini adalah

berupa: segala sesuatu yang kita didapatkan di dalam kesadaran kita sendiri,

karena semuanya mungkin adalah hasil khayalan atau tipuan; dan segala sesuatu

yang hingga kini kita anggap sebagai benar dan pasti, misalnya pengetahuan yang

telah didapatkan dari pendidikan atau pengajaran, pengetahuan yang didapatkan

melalui penginderaan, pengetahuan tentang adanya benda-benda dan adanya

tubuh kita, pengetahuan tentang Tuhan, bahkan juga pengetahuan tentang ilmu

pasti yang paling sederhana.26




Menurut Descartes, satu-satunya hal yang tidak dapat diragukan adalah

eksistensi dirinya sendiri; dia tidak meragukan lagi bahwa dia sedang ragu-ragu.

Bahkan jika kemudian dia disesatkan dalam berpikir bahwa dia ada; dia berdalih

bahwa penyesatan itu pun merupakan bukti bahwa ada seseorang yang sedang

disesatkan.27 Aku yang ragu-ragu adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal

karena apabila kita menyangkalnya berarti kita melakukan apa yang disebut

kontradiksi performatis. Dengan kata lain, kesangsian secara langsung

menyatakan adanya aku, pikiranku yang kebenarannya bersifat pasti dan tidak

tergoyahkan. Kebenaran tersebut bersifat pasti karena aku mengerti itu secara

jernih dan terpilah-pilah atau dengan kata lain tidak ada keraguan sedikit pun di

dalamnya. Kristalisasi dari kepastian Descartes diekspresikan dengan diktumnya

yang cukup terkenal, “cogito, ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. 28



Beberapa catatan ditambahkan oleh Gallagher dan Hadi29 tentang maksud

dari cogito, ergo sum ini. Pertama, isi dari cogito yakni apa yang dinyatakan

kepadanya adalah melulu dirinya yang berpikir. Yang termaktub di dalamnya

adalah cogito, ergo sum cogitans. Saya berpikir, maka saya adalah pengada yang

berpikir, yaitu eksistensi dari akal, sebuah substansi dasar. Kedua, cogito

bukanlah sesuatu yang dicapai melalui proses penyimpulan, dan ergo bukanlah

ergo silogisme. Yang dimaksud Descartes adalah bahwa eksistensi personal saya

yang penuh diberikan kepada saya di dalam kegiatan meragukan.



Lebih jauh, menurut Descartes, apa yang jernih dan terpilah-pilah itu tidak

mungkin berasal dari luar diri kita. Descartes memberi contoh lilin yang apabila

dipanaskan mencair dan berubah bentuknya. Apa yang membuat pemahaman kita

bahwa apa yang nampak sebelum dan sesudah mencair adalah lilin yang sama?

Mengapa setelah penampakan berubah kita tetap mengatakan bahwa itu lilin?

Jawaban Descartes adalah karena akal kita yang mampu menangkap ide secara

jernih dan gamblang tanpa terpengaruh oleh gejala-gejala yang ditampilkan lilin.

Oleh karena penampakan dari luar tidak dapat dipercaya maka seseorang

mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam dirinya sendiri yang bersifat pasti.

Ide-ide yang bersifat pasti dipertentangkan dengan ide-ide yang berasal dari luar

yang bersifat menyesatkan.30




Berbeda dengan para rasionalis-ateis seperti Voltaire, Diderot dan

D’Alembert, Descartes masih memberi tempat bagi Tuhan. Descartes masih

dalam koridor semangat skolastik yaitu penyelarasan iman dan akal. Descartes

mempertanyakan bagaimana ide tentang Tuhan sebagai tak terbatas dapat

dihasilkan oleh manusia yang terbatas. Jawabannya jelas. Tuhanlah yang

meletakkan ide tentang-Nya di benak manusia karena kalau tidak keberadaan ide

tersebut tidak bisa dijelaskan.31



Descartes merupakan bagian dari kaum rasionalis yang tidak ingin

menafikan Tuhan begitu saja sebagai konsekuensi pemikiran mereka. Kaum

rasionalis pada umumnya “menyelamatkan” ide tentang keberadaan Tuhan

dengan berasumsi bahwa Tuhanlah yang menciptakan akal kita juga Tuhan yang

menciptakan dunia.




Tuhan menurut kaum rasionalis adalah seorang “Matematikawan Agung”.

Matematikawan agung tersebut dalam menciptakan dunia ini meletakkan dasardasar


rasional, ratio, berupa struktur matematis yang wajib ditemukan oleh akal

pikiran manusia itu sendiri.32






EMPIRISME DAVID HUME




Kehidupan dan Karya David Hume



David Hume lahir di Edinburg, Skotlandia pada 1711.33 Ia pun menempuh

pendidikannya di sana. Keluarganya berharap agar ia kelak menjadi ahli hukum,

tetapi Hume hanya menyenangi filsafat dan pengetahuan. Setelah dalam beberapa

tahun belajar secara otodidak, ia pindah ke La Flèche, Prancis (tempat di mana

Descartes menempuh pendidikan).34 Sejak itu pula hingga wafatnya 1776 ia lebih

banyak menghabiskan waktu hidupnya di Prancis.



Sebagaimana Descartes, Hume juga meninggalkan banyak tulisan berikut:

A Treatise of Human Nature, 1739-1740; Essays, Moral, Political and Literary,

1741-1742; An Enquiry Concerning Human Understanding, 1748; An Enquiry

Concerning the Principles of Morals, 1751; Political Discourses, 1752; Four

Dissertation, 1757; Dialogues Concerning Natural Religion, 1779; dan

Immortality of the Soul, 1783.35 Perlu dicatat bahwa buku-buku An Enquiry

Concerning Human Understanding dan An Enquiry Concerning the Principles of

Morals merupakan ringkasan dan revisi dari buku A Treatise of Human Nature.36





Ajarannya




Usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak dan

pasti telah berlangsung secara terus menerus. Namun, terdapat sebuah tradisi

epistemologis yang kuat untuk mendasarkan diri kepada pengalaman manusia

yang meninggalkan cita-cita untuk mendapatkan pengetahuan yang mutlak dan

pasti tersebut, salah satunya adalah Empirisme.




Kaum empiris berpandangan bahwa pengetahuan manusia dapat diperoleh

melalui pengalaman. Hume seperti layaknya filosof Empirisme lainnya menganut

prinsip epistemologis yang berbunyi, “nihil est intelectu quod non antea fuerit in

sensu” yang berarti, “tidak ada satu pun ada dalam pikiran yang tidak terlebih

dahulu terdapat pada data-data inderawi”.37




Hume melakukan pembedaan antara kesan dan ide. Kesan merupakan

penginderaan langsung atas realitas lahiriah, sementara ide adalah ingatan atas

kesan-kesan. Menurutnya, kesan selalu muncul lebih dahulu, sementara ide

sebagai pengalaman langsung tidak dapat diragukan.38Dengan kata lain, karena

ide merupakan ingatan atas kesan-kesan, maka isi pikiran manusia tergantung

kepada aktivitas inderanya.Kesan maupun ide, menurut Hume, dapat sederhana maupun kompleks.


Sebuah ide sederhana merupakan perpanjangan dari kesan sederhana. Begitu pula

ide kompleks merupakan kelanjutan dari kesan kompleks. Tapi, dari ide

kompleks dapat diturunkan menjadi ide sederhana.39



Pikiran kita menurut Hume bekerja berdasarkan tiga prinsip pertautan ide.

Pertama, prinsip kemiripan yaitu mencari kemiripan antara apa yang ada di

benak kita dengan kenyataan di luar. Kedua, prinsip kedekatan yaitu kalau kita

memikirkan sebuah rumah, maka berdasarkan prinsip kedekatan kita juga

berpikir tentang adanya jendela, pintu, atap, perabot sesuai dengan gambaran

rumah yang kita dapatkan lewat pengalaman inderawi sebelumnya. Ketiga,

prinsip sebab-akibat yaitu jika kita memikirkan luka, kita pasti memikirkan rasa

sakit yang diakibatkannya.40




Hal-hal di atas mengisyaratkan bahwa ide apa pun selalu berkaitan dengan

kesan. Karena kesan berkaitan langsung dengan pengalaman inderawi atas

realitas maka ide pun harus sesuai dengan relitas yang ditangkap pengalaman

inderawi.



Berdasarkan prinsip epistemologinya, Hume melancarkan kritik keras

terhadap asumsi epistemologi warisan filsafat Yunani kuno yang selalu

mengklaim bahwa pengetahuan kita mampu untuk menjangkau semesta

sesungguhnya. Hume mengemukakan bahwa klaim tentang semesta

sesunguguhnya di balik penampakan tidak dapat dipastikan melalui pengalaman

faktual maupun prinsip non-kontradiksi.41




Kritik Hume diejawantahkan dalam sikap skeptisnya terhadap hukum sebab

akibat yang diyakini oleh kaum rasionalis sebagai prinsip utama pengatur

semesta.42 Kenicayaan hubungan sebab akibat tidak pernah bisa diamati karena

semuanya masih bersifat kemungkinan.




Hubungan sebab akibat, menurut Hume, didapatkan berdasarkan kebiasaan

dan harapan belaka dari peristiwa-peristiwa yang tidak berkaitan satu sama lain.

Orang sudah terbiasa di masa lalu melihat peristiwa matahari terbit di Timur

selalu diikuti oleh peristiwa tenggelam di Barat dan ia akan mengharapkan

peristiwa yang sama terjadi di masa yang akan datang. Bagi Hume, ilmu

pengetahuan tidak pernah mampu memberi pengetahuan yang niscaya tentang

dunia ini. Kebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan dalam matematika,

logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu tidak menambah

pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya bisa bertambah lewat

pengamatan empiris atau secara aposteriori.43




TINJAUAN ATAS METODE ILMIAH DESCARTES DAN HUME




Rasionalisme Descartes dan Empirisme Hume masing-masing memiliki

kelemahan apabila digunakan sebagai sebagai sebuah metode ilmiah. Kelemahankelemahan

ini misalnya diperlihatkan oleh Honer dan Hunt. Pada Rasionalisme

mereka melihat beberapa kelemahan. Pertama, pengetahuan yang dibangun oleh

Rasionalisme hanyalah dibentuk oleh ide yang tidak dapat dilihat dan diraba.

Eksistensi tentang ide yang sudah pasti maupun yang bersifat bawaan itu sendiri

belum dapat didukung oleh semua orang dengan kekuatan dan keyakinan yang

sama. Kedua, kebanyakan orang merasa kesulitan untuk menerapkan konsep

Rasionalisme ke dalam kehidupan keseharian yang praktis. Ketiga, Rasionalisme

gagal dalam menjelaskan perubahan dan pertambahan pengetahuan manusia.

Banyak dari ide yang sudah pasti pada satu waktu kemudian berubahan pada

waktu yang lain.44




Sementara itu pada Empirisme Honer dan Hunt45 juga melihat beberapa

kelemahan. Pertama, Empirisme didasarkan kepada pengalaman. Tetapi apakah

yang dimaksud dengan pengalaman? Pada satu waktu ia hanya berarti sebagai

ransangan pancaindera. Lain waktu ia berarti sebagai sebuah sensasi ditambah

dengan penilaian. Sebagai sebuah konsep, ternyata pengalaman tidak

berhubungan langsung dengan kenyataan objektif yang sangat ditinggikan oleh

kaum Empiris. Fakta tidak mempunyai apapun yang bersifat pasti. Kedua, sebuah

teori yang sangat bergantung kepada persepsi pancaindera kiranya melupakan

kenyataan bahwa pancaindera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna.

Pancaindera sering menyesatkan karena tidak memiliki perlengkapan untuk

membedakan antara khayalan dan fakta. Ketiga, Empirisme tidak memberikan

kepastian. Apa yang disebut sebagai pengetahuan yang mungkin, sebenarnya

merupakan pengetahuan yang seluruhnya diragukan.




Kelemahan-kelemahan dari masing-masing pandangan Rasionalisme dan

Empirisme di atas, membuka celah bagi ditemukan dan dibentuknya sebuah

pandangan baru yang dapat mengatasi kelemahan-kelemahan tadi. Salah satu

usaha untuk mengatasi kelemahan-kelemehan tadi adalah dengan

mengkombinasikan atau mengawinkan kedua pandangan dari aliran tersebut.

Terdapat sebuah anggapan bahwa ilmu pada dasarnya adalah metode

induktif-empiris dalam memperoleh pengetahuan. Memang ada beberapa alasan

untuk mendukung anggapan ini, karena para ilmuwan dalam mengumpulkan

fakta-fakta tertentu, melakukan berbagai pengamatan dan mempergunakan data

inderawi. Namun demikian, apabila dicermati dengan lebih mendalam maka

didapatkan bahwa kegiatan pra ilmuwan tersebut merupakan suatu kombinasi

antara prosedur rasional dan empiris.46 Dengan demikian, akal dan pengalaman

dipakai secara bersamaan sehingga terjadi perkawinan antara pandangan

Rasionalisme Descartes dengan Empirisme Hume.




Perkawinan inilah yang penulis maksudkan dengan metode ilmiah yang

didalamnya terdapat prosedur-prosedur tertentu yang sudah pasti yang

dipergunakan dalam usaha memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang

dihadapi oleh seorang ilmuwan. Menurut Kattsoff47 Proses metode ilmiah

dimulai dengan pengamatan (artinya pengalaman-pengalaman) dan diakhiri

dengan pengamatan pula. Tetapi permulaan dan akhir ini hanya sebuah

pembagian yang bersifat nisbi.




Pengetahuan ilmiah, menurut Suriasumantri,48 harus memenuhi dua syarat

utama. Pertama, pengetahuan itu harus bersifat harus konsisten, yakni sejalan

dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi.

Kedua, pengetahuan tersebut harus cocok dengan fakta-fakta empiris, sebab teori

yang bagaimanapun konsistennya jika sekiranya tidak didukung oleh pengujian

empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.


Alur berpikir yang tercakup dalam metode ilmiah dapat dijabarkan dalam

beberapa langkah berikut:49



1. Perumusan masalah; berisikan pertanyaan mengenai objek empiris yang jelas

batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan berbagai faktor yang terkait di

dalamnya.

2. Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis; argumentasi yang

menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang

saling mengait dan membentuk permasalahan. Kerangka berpikir ini disusun

secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji

kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan

dengan permasalahan.

3. perumusan hipotesis; jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan

yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari kerangka berpikir

yang dikembangkan.

4. Pengujian hipotesis; pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis

yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang

mendukung hipotesis tersebut atau tidak.

5. Penarikan kesimpulan; penilaian apakah sebuah hipotesis yang diajukan itu

ditolak atau diterima. Apabila dalam proses pengujian terdapat fakta yang

cukup mendukung hipotesis, maka hipotesis diterima. Sebaliknya, apabila

dalam proses pengujian tidak terdapat fakta yang cukup mendukung

hipotesis, maka hipotesis ditolak. Hipotesis yang diterima kemudian dianggap

menjadi bagian pengetahun ilmiah sebab telah memenuhi persyaratan

keilmuan yang mempunyai kerangka penjelasan yang konsisten dengan

pengetahuan ilmiah sebelumnya serta telah teruji kebenarannya secara

korespondensi.



Terlihat bahwa metode ilmiah merupakan gabungan antara logika deduktif

dengan logika induktif yang ditandai dengan Rasionalisme dan Empirisme hidup

secara berdampingan dengan sebuah mekanisme korektif.




PENUTUP



Sebagai metode untuk mendapatkan pengetahuan, baik Rasionalisme yang

diusung oleh Descartes maupun Empirisme yang didukung oleh Hume masingmasing

memiliki kelemahan-kelemahan yang mendasar. Oleh karena itu,

dibutuhkan sebuah metode lain yang lebih dapat dimunculkan sebagai sebuah

metode yang handal untuk pencarian pengetahuan tersebut. Salah satunya adalah

dengan mengawinkan Rasionalisme dengan Empirisme sehingga kelemahankelemahan

masing-masing aliran sebagai sebuah metode dapat diatasi.

Perkawinan antara Rasionalisme dengan Empirisme ini dapat digambarkan

dalam metode ilmiah dengan langkah-langkah berupa perumusan masalah,

penyusunan kerangka berpikir, penyusunan hipotesis, pengujian hipotesis dan

penarikan kesimpulan.




DAFTAR PUSTAKA



Adian, Donny Gahral, 2002, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan dari

David Hume Sampai Thomas Kuhn, Teraju, Jakarta

Bagus, Lorens, 2002, Kamus Filsafat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cummins, Robert dan David Owen (eds.), 1999, Central Readings in the History

of Modern Philosophy: Descartes to Kant, Wadsworth Publishing

Company, Canada

Descartes, René, 1953, Discourse on the Method of Rightly Conducting the

Reason and Seeking Truth in the Science, dalam a Discourse on Method,

terj. John Veitch, J.M. Dent & Sons Ltd., London

Descartes, René, 1953, The Principles of Philosophy, dalam a Discourse on

Method, terj. John Veitch, J.M. Dent & Sons, Ltd., London

Edwards, Paul (ed.), 1967, The Encyclopedia of Philosophy Volume 2, The

Macmillan Company & The Free Press, New York.

Edwards, Paul (ed.), 1967, The Encyclopedia of Philosophy Volume 4, The

Macmillan Company & The Free Press, New York

Edwards, Paul (ed.), 1967, The Encyclopedia of Philosophy Volume 7, The

Macmillan Company & The Free Press, New York

Gallagher, Kenneth T., 1986, The Philosophy of Knowledge, Fordham University

Press, New York

Hadi, Hardono, 1994, Epistemologi: Filsafat Pengetahuan, Kanisius, Yogyakarta

Hadiwijono, Harun, 1980, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta

Honer, Stanley M. dan Thomas C. Hunt, 2003, Metode dalam Mencari

Pengetahuan: Rasionalisme, Empirisme dan Metode Keilmuan, dalam

Jujun S. Suriasumantri (penyunting), Ilmu dalam Perspektif: Sebuah

Kumpulan Karangan tentang Hakekat Ilmu, Yayasan obor Indonesia,

Jakarta

Hume, David, 1999, an Enquiry Concerning Human Understanding, dalam

Central Readings in the History of Modern Philosophy: Descartes to Kant,

Robert Cummins dan David Owen (ed.), Wadsworth Publishing Company,

Canada

Jones, W.T., 1969, A History of Western Philosophy: Hobbes to Hume, San

Diego, Harcourt Brace Jovanovich, USA

Jurnal Filsafat, Desember 2004, Jilid 38, Nomor 3

245

Kattsoff, Louis O., 2004, Element of Philosophy, diterjemahkan Pengantar

Filsafat, terj. Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta

Lacey, A.R., 2000, A Dictionary of Philosophy, Routledge, New York

Masih, Y., 1988, A Critical History of Modern Philosophy, Motilal Banarsidass,

Delhi.

Mudhofir, Ali, , 2001, Kamus Filsafat Barat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Russell, Bertrand, 1946, History of Western Philosophy and Its Connection with

Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present

Day, George Allen and Unwin, London.

Suriasumantri, Jujun S., 1988, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Pustaka

Sinar Harapan Jakarta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERAJAAN WENGKER SEBELUM MAJAPAHIT DAN ZAMAN MAJAPAHIT

Asal-Usul Desa Ngrayun