TERJIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Selasa, 05 April 2011

PENGETAHUAN ENTREPRENEURSHIP

PENGETAHUAN ENTREPRENEURSHIP: "

PENGETAHUAN ENTREPRENEURSHIP[1]


Oleh: Giyanto

Banyak buku beredar tentang entrepreneurship (kewirausahaan) di toko-toko. Namun, apabila kita amati, kebanyakan buku tersebut mengulas tentang bagaimana menjadi entrepreneur (pengusaha) yang sukses. Minim sekali yang mencoba menjelaskan tentang apa itu entrepreneurship dan apa pentingnya menjadi entrepreneur.


Berdasarkan pengalaman saya yang memang belum banyak dan bersumber pada literatur yang terbatas, kali ini saya mencoba menjelaskan sekilas mengenai kewirausahaan tersebut.


Entrepreneur dan entrepreneurship sama-sama berasal dari kata dasar “enterprise” yang berarti “keberanian memulai usaha”. Bahasa spanyol menyebutnya empresa, sedangkan kita seringkali menyebut dengan istilah di atas, selain juga wiraswasta atau pengusaha. Istilah entrepreneur baik yang dijumput dari bahasa Inggris maupun Prancis berasal dari bahasa Latin In prehendo-endi-ensum, yang bisa diartikan sebagai: “menemukan (to discover), mengamati (to see), merasakan (to perceive), menyadari (to realize), menangkap (to capture). Apabila ditelisik dari sejarah munculnya istilah tersebut, yaitu kembali ke sekitar abad pertengahan di Prancis, kata tersebut berkaitan dengan orang-orang yang ditunjuk untuk mengerjakan proyek bangunan katredal (de Soto, 2008:16).


Dalam pengertian yang luas, seorang entrepreneur adalah setiap orang yang bertindak untuk mengubah atau memanipulasi kondisi sekarang dan meraih tujuan di masa depan dalam bidang kewirausahaan. Konsepsi tentang usaha (enterprise) berkait erat dengan persoalan sikap yang secara terus menerus ingin mencari, menemukan dan menciptakan tujuan-tujuan dan cara-cara yang baru. Dalam pengertian yang sempit, entrepreneurship berarti upaya untuk menemukan dan mendapatkan peluang untuk mencapai tujuan, atau memperoleh keuntungan, dan berusaha bertindak agar mendapatkan keuntungan dari peluang yang tersedia di dalam lingkungannya.


Definisi di atas menyiratkan bahwa ciri terpenting dari entrepreneurship usaha mencari atau menciptakan pengetahuan atau informasi baru. Artinya, kendala terbesar entrepreneurship bukanlah terletak pada hal-hal yang berkaitan secara materiil—walaupun seringkali berawal dari kondisi persoalan materiil—melainkan justru pada bagaimana menciptakan pengetahuan—yang non materiil—yang dianggap mampu untuk digunakan dalam usaha memperoleh barang-barang atau hal yang materiil guna memenuhi tujuan atau hasrat seseorang. Dengan kata lain, hal-hal materiil sebenarnya hanyalah sekadar efek samping dari terciptanya pengetahuan atau informasi entrepreneurship.


Namun, pengetahuan entrepreneurship tidaklah seperti jenis pengetahuan ilmiah yang bersifat akademis, teoritis, statis, atau seperti rumus-rumus dalam ilmu fisika ataupun matematika. Jenis pengetahuan terkait entrepreneurship merupakan jenis pengetahuan praktis. Bahkan seringkali, dari berbagai pengalaman, seorang entrepreneur biasanya ialah orang-orang yang tidak cukup sukses prestasinya di kelas-kelas formal. Seseorang tidak harus “cerdas” dalam pengertian akademik agar dapat menjadi seorang entrepreneur, tapi dia harus “cerdas” dalam pengertian yang lebih luas.


Ini bukan berarti bahwa pengetahuan ilmiah akademik tidak penting bagi seorang entrepreneur. Hubungan pengetahuan ilmiah akademik dengan pengetahuan praktis entrepreneurship sangat kompleks. Semisal, hasil penelitian yang menghasilkan temuan obat-obatan atau riset ilmiah teknologi bisa jadi belum dapat bernilai/dinilai sebagai hal yang berharga bagi masyarakat apabila belum ada seorang entrepreneur/pengusaha yang “menemukannya” dari seorang ilmuwan kemudian memasarkannya ke masyarakat atau pasar.


Sebaliknya, pengetahuan praktis dapat menjadi basis atau obyek penelitian dari pengetetahuan ilmiah teoritik/akademik. Sebagai contoh, seorang ahli/praktisi terjun payung tidak harus mengetahui hukum gravitasi agar mampu memperoleh pengetahuan praktis tentang terjun payung, namun kemampuannya bisa jadi dimanfaatkan sebagai basis dan obyek penelitian ahli fisika teoritis dalam mengukur hubungan lebar parasut dengan kecepatan gaya gravitasi.


Menurut de Soto (2008:17), setidaknya ada enam ciri istimewa yang cukup mendasar dari pengetahuan entrepreneurship. Pertama, pengetahuan ini lebih bersifat subyektif dan praktis, yang berarti langsung dapat dipraktikkan, ketimbang ilmiah obyektif. Kedua, pengetahuan ini bersifat pengetahuan khusus, alias ekslusif. Artinya, seorang pelaku biasanya hanya memiliki keahlian khusus tertentu agar dirinya dapat berperan dalam sistem ekonomi di pasar atau masyarakat. Keempat, pengetahuan entrepreneurship selalu menyebar ataru tersebar di dalam seluruh benak masyarakat atau pelaku pasar. Keempat, pengetahuan ini tidak terartikulasikan/terucap secara jelas—atau dalam istilah yang agak puitis: dia membisu. Yang kelima, pengetahuan tersebut diciptakan dari ruang kosong (ex nihilo), tepatnya melalui kegiatan entrepreneurship. Yang terakhir, pengetahuan tersebut dapat menyebar melalui proses sosial yang kompleks, kebanyakan tanpa disadari.


Nah, setelah sedikit mengulas tentang apa itu entrepreneurship dan ciri pengetahuan entrepreneurship, saya akan menuju pada penjelasan berikutnya: mengapa atau apa pentingnya menjadi entrepreneur?


Banyak alasan untuk menjadi entrepreneur. Sebagian biasanya karena ingin menjadi kaya. Sebagian lagi, dengan alasan yang lebih idealis, bisa jadi ingin mengentaskan kemiskinan dalam masyarakat ataupun sebuah bangsa. Sebagian barangkali ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain atau umat manusia. Sebagian bisa jadi karena sekedar menyalurkan hobi.


Bagi saya pribadi, menjadi entrepreneur berarti gairah akan memahami arti penting kebebasan. Kalau Anda jadi pengusaha, Anda bebas untuk menentukan hari libur Anda sendiri, bebas memilih membelanjakan apa yang Anda dapatkan, bebas dari tekanan atasan atau bahkan orang tua—karena satu-satunya atasan seorang entrepreneur adalah konsumen/pelanggannya.


Sebenarnya, tidaklah terlalu penting apapun alasannya—walaupun tingkat motivasi seringkali berpengaruh terhadap konsistensi dalam menjalankan usaha. Faktanya, dunia kehidupan manusia tidak berjalan linear. Dengan kata lain, saya tidak akan tahu pasti apa yang akan terjadi kelak. Misal, walaupun sekarang Anda kuliah di jurusan geografi, apakah hal tersebut akan selalu menjamin bahwa di masa mendatang anda tetap berprofesi sebagai ahli geografi? Bayangkan, apakah dua puluh tahun lagi Anda akan tetap menjadi geograf demi menghidupi orang-orang yang Anda sayangi?


Bukan maksud saya meremehkan ilmu geografi. Saya sangat senang dengan ilmu geografi—dan seringkali membaca serta membeli Majalah National Geographic. Namun sebagai seorang yang “normal”, pastinya saya akan lebih bersikap realistis daripada harus meyakini secara membabi buta bahwa kehidupan saya akan sepenuhnya bersandar pada keilmuwan akademik saya. Dengan kata lain, saya menyadari sepenuhnya arti penting memahami perbedaan manfaat dari pengetahuan ilmiah akademik dan pengetahuan praktis entrepreneurship.


Tanpa memahami perbedaan akan dua jenis pengetahuan tersebut, bisa jadi dalam sistem kapitalistik yang setengah-setengah sekarang ini, Anda atau saya hanya akan menjadi penonton, bukannya pemain yang kreatif. Bahkan bisa jadi, suatu saat, karena Anda dan saya kurang/tidak kreatif, akan menjadi obyek penelitian kemiskinan. J


Dalam sudut pandang kemasyarakatan, entrepreneur memiliki peran yang sangat penting bagi perubahan dan kemajuan masyarakat. Entrepreneur adalah tokoh revolusioner yang jarang tersorot secara jelas di media masa. Karena pengetahuan praktis kewirausahaanlah, saya dan Anda dapat menikmati keberlimpahan yang kita rasakan sekarang ini. Karena entrepreneur-lah, dunia terasa menjadi sangat dekat dan waktu dijalani dengan penuh keberlimpahan fasilitas. Anda dan saya mudah berpergian, mudah berkomunikasi dan semakin mudah melakukan hal-hal yang dulu sempat dianggap tidak mungkin dilakukan. Seberapa sering kaum radikal kiri Marxis menghujat para entrepreneur atau pengusaha, tetap saja dalam tindakan mereka, mereka akan selalu membutuhkan kemampuan entrepreneurship.


Saya sering menganalogikan seorang entrepreneur, apabila dalam permainan sepak bola, ibarat seperti para pemain tengah. Tugas pemain tengah dalam sepak bola adalah menyuplai bola untuk para penyerang, merebut/mencuri bola apabila bola berada di wilayah pertahanan kemudian dibawa ke lini tengah dan lini depan. Sehingga seorang pemain tengah akan selalu rajin untuk mencari kemudian mengumpan bola (walaupun sayangnya, yang sering kebagian popularitasnya adalah para penyerang J). Ambilah contoh seorang Bill Gates, secara sadar atau tidak, pada saat dia “membajak” atau “mencuri” pengetahuan dari perusahaan Apel Computer serta IBM, dirinya telah menciptakan perubahan yang luar biasa terhadap perkembangan dunia teknologi, hingga akhirnya berdampak juga pada kehidupan masyarakat. Begitu banyak contoh-contoh terkait kesuksesan dari pengusaha-pengusaha populer, Anda tinggal membaca cerita-cerita sukses para pengusaha di toko-toko buku terdekat, karena persoalan tersebut bukanlah fokus dari tulisan ini.


Kemudian, pertanyaan terakhir adalah, bagaimana cara memulai usaha? Jelasnya, tidak ada rumus pasti di sini. Namun demikian, saran saya, belajarlah pada orang-orang terbaik dalam bidangnya berdasar minat pengetahuan praktis Anda sendiri.




Referensi


Huerta de Soto. 2008. The Austrian School: Market Order and Entrepreneurial Creativity. Northampton: Edward Elgar



[1] Disampaikan dalam acara orientasi mahasiswa baru jurusan Geografi Unnes (PLG) tanggal 28/8/10.

Email penulis: giyanto17@yahoo.com

"

sllahkan entry

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut