TERJIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Jumat, 29 April 2011

Puisi Pepe



Sehati kah
Kita sehati,,,,
Dalam senang,
Kita sehati
Dalam bahagia,,,,
Sayang kau berubah,,
Kau tak sehati
Saat aku jatuh
Dan tertatih,,,,,
Letih
Aku mengharap kau kembali,,
Sekarang!!!!
kau hanya
Bayang bagi ku……
Sehati kah itu?

WANITA PRIA
Waria kota,,,,
Disebut wanita
Dia punya alat kelamin pria
Disebut pria
Sikapnya layaknya wanita
Lalu apakah dia,?
Bukan apanya yang musti kita tahu!
Karena itu kehendak Tuhan
Tapi mengapa? Itu yang musti kita tahu
Apakah kehendak Tuhan pula,?
Bukan kehendak Tuhan yang ingin ku tahu
Karena ku tahu itu semua karena satu hal
Hati mereka!
Hati yang tertekan
Oleh suara-suara yang tak sesuai dengan hati
Harusnya bukan suara-suara itu yang didengar
Tapi suara hatilah yang harus didengar.
Aku tak menyalahkan mereka
Aku tak menyalahkan kamu
Tapi aku menyalahkan aku
Aku tak mampu berbuat apapun
Melihat, mata semakin perih
Mendengar, telinga makin gemuruh
Merasa, hati makin kacau!
Bantu aku untuk melakukan sesuatu.!
PONOROGO, 10 MARET 2011

PERJALANAN (PEPE, Harlah PMII Di Cabang Ponorogo)

51 tahun sudah berjalan
Dengan langkah pasti
Dengan pedoman lembaran kertas kusam
Sekarang tangan terasa pegal
Kaki terasa linu,
Tubuh lesu, keringat pilu,,
Melihat seorang anak kelaparan
Tanpa huruf maupun angka
Tanpa nasi maupun air
Tanpa celana maupun baju
Andai ku mengerti bahasa matahari
Aku ingin bicara
Ingin ku pinjam catatannya
Tentang Anak yang lapar,
Tentang wanita yang gugur karena kertas
Tentang lelaki tanpa penis
Tentang ibu yang sibuk mencari susu
Sayang matahari jawa telah tenggelam,
Hampir 15 tahun tidak terbit
Hampir semua mati karena itu
Sekarang jadilah matahari sahabat,, demi mereka!


SIAPA DIA
Siapa dia?
Dia berjalan
lusuh, lesu, keningnya tampak kusam
kakinya kadang gemetar
disapu debu jalanan
siapa dia?
Rambutnya kumal
Mungkin sebulan tak keramas.
Tangannya selalu dibelakang punggung
Seperti sembunyikan sesuatu,,,,,
Apakah dendam?
Apakah hadiah?
Atau mungkin,,,,,, hanya Tuhan lah yang tahu!
Dia adalah kita,,
kita yang selalu ditindas
selalud ihina,,,,,,
karena salah mereka sendiri,,,
saudara kita pilih
bukan kita lotre.
Meski kita kurang tahu siapa saudara…
Tapi lihat,,,,,
Kita lapar, saat saudara pesta dengan belimpah makanan.
Kita kepanasan, saat saudara berpura-pura kerja di gedung ber AC
siapa yang salah?
Yang memilihkah? atau yang dipilih?
Semua hanya untuk kita renungkan,

PEPE: PONOROGO, 13 JANUARI 2010


KU TAK DAPAT MENULIS

Malam semakin kelabu
tatkala aku masih sibuk dengan kertas-kertas putih.
Jam dinding seakan tersenyum
saat aku masih duduk di tempat itu,
tanpa kata hanya diam
tangan bergerak menari tapi tak indah.
Lantunan lagu seakan membuat semakin sunyi malam ini.
Aku tak mampu menulis apa-apa
hanya mampu ungkapkan apa yang kurasa
dalam kertas ini.
Kata-kata yang kukira kurang pantas
kutulis jua karena muak dengan sesuatu.
Hanya itu yang mampu ku ungkapkan
.tak ada yang mengerti aku,
tak ada yang mampu pahami aku,
aku benci mereka.
Kemarahan ku
hanya mampu ku ungkapkan pada selembar kertas putih,
dan tanpa membutuhkan waktu lama menjadikanya seonggok sampah.
Lalu akan aku jadikan mereka yang kubenci
layaknya kertas itu, menjadi sampah,
kemudian akan kubuang jauh dari hidupku.
Puguh, 4- 01-2011


Derita

Po, 10 januari 2011

Mata sinis melihat
Bibir lirih berbisik
Tak ada yang tahu
Tak ada yang mengerti
Lihat mereka
Lapar dan haus menghantui mereka…..
Siapakah mereka?
Binatang jalang
Tak mau membantu!
Mereka menangis….



CIPTAAN
18 Maret 2011
Lihatlah dia berjalan
Indah nian,,,,
Bokongnya bagai salak raksasa,,,
Lihatlah dia berjalan
Aduhai,,,,,
Rambutnya lurus bagai sapu lidi,,,
Begitu indah ciptaan Tuhan,
Dia mampu ciptakan
Keindahan yang tak terduga,,,,
Dia tak mau diatur, Dia sombong, terserah Dia saja,,,,,
Dia pun mampu ciptakan lidah,
Dan para menteri pun mampu ciptakan kebohongan dari lidah itu,,,,
Dia pun mampu ciptakan kaki,
Dan para penguasa gunakan untuk menginjak rakyat,,,
Belum saatnya kah kita berubah?
Berubah dengan lidah Tuhan
Dan berjalan baik dengan kakiNya,,,,,


ANGIN


Terasa sejuk saat berhembus,,,
Bulu ketiakku pun tersapu olehnya,
Selalu berhembus
Meski tak ku minta,
Walau begitu tak pernah ada yang melihat dia,
Sungguh luar biasa,,,
Asap rokok
yang penuh dengan racunpun ia bawa pergi dariku,
angin selalu berpindah,
tak tahu kemana ia pergi
andai punya hati,, baik sekali hatinya,,
siapa yang mengaturnya?
Siapa yang menyuruhnya?
Apa dia tak pernah merasakan malas?
Apa dia tak merasa lelah?
Tak tahu siapa yang mengaturnya,
Tak tahu siapa yang menyuruhnya,
Andai dia malas, matilah kita
Andai dia lelah, matilah kita
Tapi jangan buat dia marah,
Sebab kemarahan nya, kehancuran buat kita.

Ponorogo, 08 April 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pengikut