Epistemologi Menurut Perspektif Islam

Osman Bakar, PhD

1. Mana-mana epistemologi - teori ilmu - semestinya berkemampuan menghubungkaitkan dengan jelas antara dua perkara, iaitu obiek yang dikethui dan subjek yang mengetahui.Yang membedakan sesuatu epistemology dengan epistemology yang lain adalah tanggapan terhadap ruanglingkup realitas objek dan ruanglingkup realitas subjek yang dapat diterima sebagai meyakinkan. Aliran utama epistemology modern umpamanya yang sebenarnya merupakan ciptaan pemikiran Barat didapati berbeda dengan epistemologi Islam pada umumnya dari segi tanggapan terhadap kedua dua ruanglingkup ini. Di Barat terdapat sebilangan ilmuwan dan pemikir yang berpegang pada epistemologi yang hampir serupa dengan epistemologi Islam. Tetapi mereka ini merupakan golongan minoritas.

2. Adalah jelas bahawa konsep realitas sangat mempengaruhi epistemologi. Bagi ajoritas ilmuwan dan pemikir dalam peradaban Barat modern, yang diakui sebagai ealitas adalah terbatas kepada apa yang dapat disaksikan oleh pancaindera atau yang apat disahkan oleh metode empiris. Yang tidak dapat dibuktikan dengan menggunakan metode ini disangsikan eksistensinya atau pun ditolak sarna sekali. 'Metode ilmiah dijadikan penentu tunggal eksistensi sesuatu. Isunya, konsep pembuktian kebenaran terbatas kepada penggunasuaian metode ilmiah tetapi makna dan pengertiani lmiah itu sendiri disempitkan kepada pengetahuan empiris. Tegasnya, ruanglingkup realitas objek menurut aliran pemikiran ini adalah terbatas kepada alam fisik.

3. Seperti mana terjadi penyempitan realitas objek yang dapat diketahui oleh manusia epada realitas fisik maka demikian juga terjadinya pengecilan wilayah realitas subyek ang mengetahui kepada diri yang sekadar memiliki fakultas pancaindera dan fakultas
akal yang hanya pandai berfikir secara logika tentang data-data empiris sahaja. Dengan ata lain, diri manusia yang ingin menjadi subyek yang mengetahui mempunyai tahap esadaran yang rendah. Di kalangan ilmuwan modem bukan sedikit yang berpendapat
bahawa akal pikiran manusia itu sendiri adalah konsekuensi proses evolusi yang bersifat fisik. Maksudnya, akal manusia disamakan sahaja dengan otak. Maka ia dilihat sebagai produk proses fisik yang dapat dipahami dengan hanya perlu merujuk kepada realitas alam materi. Apabila manusia seperti ini merujuk kepada dirinya sebagai "aku" maka kesadaran "aku"nya itu sekadar kesadaran yang dimiliki oleh ego empirisnya.Ternyata bahawa epistemologi yang dimiliki oleh aliran utama pemikiran ilmiah di Barat moden adalah didasarkan kepada hubungan antara objek dan subyek pada tahap kesadaran manusia yang paling rendah.

4. Berbeda kedudukannya dengan konsep realitas dalam pemikiran Islam. Menurut l-Qur'an realitas objek yang dapat diketahui mencakupi seluruh alam semesta dan enciptanya yakni Allah s.w.t. Alam semesta yang wujud di luar diri manusia bersifat irarkis. Maksudnya, ia memiliki berbagai tingkat wujud atau eksistensi. Selain alam isik wujud alam bukan fisik yang juga dapat diketahui oleh manusia. Alam semesta atau kosmos yang diperlihatkan oleh al-Qur'an terbahagi secara kasarnya kepada tiga tingkat wujud dengan sifat realitas masing-masing. Realitas tingkat terendah adalah realitas fisik atau dunia materi. Realitas tingkat teratas adalah realitas spiritual. Dalam al-Qur'an realitas ini merujuk kepada dunia malaikat yang menurut hadis adalah dicipta daripada cahaya. Realitas tingkat tengah adalah realitas psikis atau animistik yang juga disebut sebagai dunia halus. Dari segi peristilahan keagamaan di dalam al-Qur'an realitas ini merujuk kepada dunia jinn yang dicipta daripada api yang bukan fisik.

5. Juga menurut al-Qur'an, realitas subyek yang dapat diketahui mencakupi seluruh apa ang disebut oleh Sayyidina Ali r.a. sebagai alam kecil (al- 'alam al-saghir). Di Barat ia ikenali dengan istilah microcosm. Alam ini merujuk kepada alam diri manusia yang juga terbahagi kepada beberapa tingkat wujud dengan sifat realitas masing-masing. AI-Qur'an menegaskan: "Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia enyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia enjadikan bagi kamu (fakultas) pendengaran, pengelihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur." (32:7-9). Fakultas pengetahuan manusia meliputi pancainderanya, fakultas-fakultas batin (internal) seperti fakultas pengingatan dan daya khayal, fakultas rasional dan spiritualnya, yakni akal dan hati (qalb). Fakultas-fakultas yang membentuk realitas subyek inilah yang memungkinkan manusia mengetahui realitas alam semesta yang bertingkat-tingkat wujudnya dalam suatu hirarkis.

6. Epistemologi Islam menegaskan bahawa setiap disiplin ilmu atau sains dicirikan oleh mpat perkara berikut: [1] ada mauduk ("subject matter") yang diberi definisi yang jelas; 2] ada premis-premis( muqadammat) yang diandaikan benar tetapi kebenarannya tidak isa dibuktikan dalam ilmu tersebut; kebenaran premis-premis disiplin ilmu itu perlu ibuktikan dalam displin ilmu yang dikira lebih tinggi kedudukannya dari segi tahap ebenaran yang dibicarakan; [3] ada metode (tariqah) yang khusus baginya; [4] ada bjektif-objektif (ahdaf) khusus bagi disiplin berkenaan.

Dibentangkan pada: Diskusi Pakar “Krisis Epistemologi di Perguruan Tinggi” FUF UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Indonesia, 23 Mei 2008.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERAJAAN WENGKER SEBELUM MAJAPAHIT DAN ZAMAN MAJAPAHIT

Asal-Usul Desa Ngrayun