Sikap adalah segalanya

Sikap adalah segalanya:

(Pengantar – Mengawali “comeback” saya ke dunia maya setelah absen lebih dari 3 bulan, saya tulis tips praktis di bawah ini, yang selama ini saya terapkan bagi diri sendiri, dan yang saya harap berguna juga bagi Anda pembaca. Tulisan ini juga mengawali tulisan-tulisan saya berikutnya, yang dapat digolongkan ke dalam seri: praxeology in action.)


Attitude is everything. Mungkin Anda pernah mendengar kalimat tersebut. Padanannya dalam bahasa kita k.l.: sikap adalah segalanya. Bahkan kadang, sikap adalah satu-satunya yang terpenting, the only thing. Attitude is everything, dan di balik sikap kita adalah perspektif yang kita pilih, sadar atau tidak, ataupun ketidak(mau)tahuan kita.


Di dunia kerja dan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan mendapati dua jenis orang yang bekerja di lingkungan yang berbeda, namun menjalankan hari demi hari mereka secara berbeda, dengan kinerja berbeda.


Sebut saja tokoh ini A, yang mungkin Anda kenal. Ia sepertinya bekerja separuh terpaksa, bermalas-malasan, dan bahkan “merugikan” tempat/teman sekerja dengan mengelak dari tugas, menunda-nunda pekerjaan, memilih-milih pekerjaan yang lebih ringan dan menghindari tugas “ekstra”, atau sering mengeluh, kombinasi semua ini.


Di lain pihak, ada pula rekan sekerja seperti B, yang profesionalitasnya berbeda dari A. B orang yang menerima pekerjaannya sepenuh hati; bekerja keras; siap menjalani tugas dan tanggung jawabnya.


Sadar atau tidak sadar, kita adalah A atau B. Perilaku dan kinerja kita di tempat kerja selalu didasari oleh sesuatu—apapun itu namanya—yang berada di benak kita. “Sesuatu” tersebut ikut memengaruhi motivasi kerja kita. Apapun itu, sesuatu tersebut “bersemayam” di dalam diri kita.


Baik secara eksplisit dan implisit, semua ekonom dan pemikir dari mazhab Austria, dari Menger, Bawerk, Bawerk hingga para Misesian, menggarisbawahi pentingnya kewirausahaan dalam kehidupan. Enterpreneurship adalah kunci kemajuan ekonomi bagi setiap individu, keluarga dan bangsa. Dan karena semua manusia pada hakikatnya berekonomi untuk mencapai kebahagiaan (happiness), dalam arti untuk memperbaiki atau meningkatkan suatu keadaan dari keadaan sebelumnya, kewirausahaan adalah sesuatu kualitas yang dipentingkan.


Dalam adikarya masing-masing, baik Mises maupun Rothbard bahkan mengatakan bahwa kemajuan peradaban amat terkait kemampuan wirausahawan dalam memproduksi secara massal hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan kita.


Jadi, kalau bisa, jadilah pengusaha. Titik. Tapi sudah terang, tidak semua orang tertarik ataupun punya kemampuan menjadi pengusaha. Kita-kita yang lebih suka aman—dan ini amat manusiawi—dapat menjadi pekerja, karyawan, staf pada perusahaan-perusahaan, yang siap membayar kita di depan, atas suatu proyeksi keuntungan yang baru bakal terwujud, atau gagal terwujud, kemudian.


Motivasi atau sikap kita terhadap perusahaan tempat kita bekerja pada dasar yang lebih dalam pastilah berdasar pada sesuatu. Ini bisa berupa ignorance ataupun pada suatu doktrin/stereotyping terhadap bisnis atau pengusaha.


Satu faktor penting lain adalah faktor moral. Kita sering lupa moralitas yang terlibat di pasar bebas. Semua kontrak kerja di pasar bebas adalah sesuatu yang win-win, tanpa paksaan. Dengan kata lain, itu adalah sesuatu yang pada dasarnya moral, yang dengannya tidak ada satu pihak pun yang per definisi bakal dirugikan. Tanyakan diri kita: apakah ada yang lebih bermoral daripada kesepakatan semacam ini?


Untuk dapat menghargai semua ini, kadang kita sebagai (calon) karyawan cukup membayangkan apa yang kiranya kita harapkan dari pekerja-pekerja kita seandainya kita berada dalam posisi majikan/pemberi kerja.


Mari lakukan yang terbaik di posisi kita masing-masing. Good luck bagi para pencari kerja. Selamat bekerja bagi yang sudah di dalamnya.

"

sllahkan entry

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KERAJAAN WENGKER SEBELUM MAJAPAHIT DAN ZAMAN MAJAPAHIT

Asal-Usul Desa Ngrayun